Pembelajaran

          Istilah pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah pengajaran. Akan tetapi, saat ini, istilah pembelajaran (instruction) berbeda dengan istilah pengajaran (teaching). Kegiatan pembelajaran bukan lagi sekedar kegiatan mengajar (pengajaran) yang mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekedar meyiapkan tenaga pengajaran dan melaksanakan prosedur mengajar dalam pembelajaran tatap muka. Kata “pengajaran” lebih bersifat formal dan hanya ada di dalam konteks guru dengan peserta didik di kelas atau sekolah. Sedangkan kata “pembelajaran” lebih kompleks lagi dan dilaksanakan dengan pola – pola pembelajaran yang bervariasi. Kegiatan pembelajaran tidak hanya ada di dalam konteks guru dengan peserta didik di kelas secara formal, akan tetapi juga meliputi kegiatan – kegiatan belajar peserta didik diluar kelas yang mungkin saja tidak dihadiri oleh guru secara fisik. Dengan demikian, kata “pembelajaran” ruang lingkupnya lebih luas daripada kata “pengajaran”.

          Pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan peserta didik secara sungguh – sungguh yang melibatkan aspek intelektual, emosional dan sosial. Dalam arti sempit, pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar. Dalam arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta didik, baik di kelas maupun diluar kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan (Zaenal Arifin, 2009 : 10). Sedangkan pengertian pembelajaran menurut UU RI tahun 2003 Bab 1, pasal 1, ayat 20 adalah adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

          Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dipandang sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen – komponennya. Komponen – komponen utama pembelajaran antara lain yaitu : tujuan, materi /bahan ajar, metode, media dan evaluasi. Sedangkan komponen lain dalam pembelajaran yaitu adanya peserta didik dan pendidik.

Presentation1

           Sebagai sebuah sistem, masing – masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh. Masing – masing komponen saling berinteraksi, yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi. Misalnya dalam menentukan bahan pembelajaran merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, serta bagaimana materi itu disampaikan akan menggunakan strategi yang tepat dan didukung oleh media yang sesuai. Dalam menentukkan evaluasi pembelajaran akan merujuk pada tujuan pembelajaran, bahan yang disediaka, medai dan strategi yang digunakan, begitu juga dengan komponen yang lainnya saling bergantung (interdependensi).

Barry Moris (dalam Rusman, 2011 : 134) mengklasifikasikan empat pola pembelajaran, antara lain sebagai berikut :

  1. Pola pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu/bahan pembelajaran dalam bentuk alat peraga. Pola pembelajaran ini tergantung pada kemampuan guru dalam mengingat bahan pembelajaran dan menyampaikan bahan tersebut secara lisan kepada siswa
  2. Pola (guru + alat bantu) dengan siswa. Pada pola pembelajaran ini guru sudah dibantu oleh berbagai bahan pembelajaran yang disebut alat peraga pembelajaran dalam menjelaskan dan meragakan suatu pesan yang bersifat abstrak.
  3. Pola (guru) + (media) dengan siswa. Pola pembelajaran ini sudah mempertimbangkan keterbatasan guru yang tidak mungkin menjadi satu – satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, guru dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai sumber belajar yang dapat menggantikan guru dalam pembelajaran, jadi siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media sebagai sumber belajar, misalnya dari majalah, modul, siaran radio pembelajaran, televisi pembelajaran, media komputer dan internet. Pola ini merupakan pola pembelajaran bergantian antara guru dan media dalam berinteraksi dengan siswa.
  4. Pola pembelajaran media dengan siswa atau pola pembelajaran jarak jauh menggunakan media atau bahan pembelajaran yang disiapkan, dalam pola ini, siswa belajar dengan media, tanpa campur tangan guru, artinya, guru hanya sebagai fasilitator yang menyiapkan bahan atau materi pembelajaran saja yang kemudian bahan tersebut diaplikasikan pada media sebagai sumber belajar siswa yang utama.

Sumber Rujukan :

Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Remaja Rosdakarya

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s