Belajar

Dalam kehidupan sehari – hari, kata “belajar” sudah tidak asing lagi bagi pendengaran kita, dan banyak orang yang sering menggunakan kata tersebut dalam pembicaraannya, terutama biasanya dihubungkan dengan aktivitas di Sekolah. Tapi apakah kita tahu apa sebenarnya makna belajar itu? Berikut ini ada pengertian belajar dan hakikat belajar itu sendiri seperti apa.

          Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar, anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu menjadi mampu melakukan sesuatu, anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil.

         Belajar, pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu (Sudjana, dalam Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran: 119).

           Sejalan dengan konsep diatas, Cronbach (Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran : 119) menyatakan “Learning may be defined as the process by which a relatively enduring change in behaviour occurs as a result of experience or practice”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa indikator belajar ditentukan oleh perubahan dalam tingkah laku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman atau latihan.

Belajar menurut Gagne (1984, Dalam Ratna Wilis Dahar : 11), adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan beberapa hal yang menyangkut pengertian belajar sebagai berikut:

  1. Belajar merupakan suatu proses, yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus berlangsung seumur hidup.
  2. Dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen.
  3. Hasil belajar ditunjukkan dengan aktivitas – aktivitas tingkah laku secara keseluruhan.
  4. Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar, antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.

Jika melihat pengertian belajar yang dikemukakan oleh Gagne, terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu: proses, perubahan perilaku, dan pengalaman.

  1. Proses

          Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi dirasakan oleh orang yang bersangkutan sendiri. Guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Guru melihat dari kegiatan siswa sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa, sebagai contoh : siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, diskusi, memecahkan permasalahan, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, dan sebagainya. Itu semua adalah gejala yang nampak dari aktivitas mental dan emosional siswa.

          Bagaimana bila siswa hanya duduk saja pada saat guru menjelaskan? Apakah dapat dikategorikan sebagai belajar? Jawabannya adalah apabila siswa tersebut duduk sambil menyimak penjelasan guru, maka dapat dikategorikan sebagai belajar. Tetapi apabila siswa hanya duduk sambil pikiran dan perasaannya melayang – layang atau melamun diluar pelajaran yang dijelaskan guru, maka siswa tersebut tidak sedang belajar, tapi sedang melamun.

          Perlu dicatat bahwa belajar tidak hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru saja (tidak harus selalu ada yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara dan kegiatan, asal terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya dengan megamati demonstrasi guru, mencoba sendiri, mendiskusikan dengan teman, melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca sendiri dan sebagainya. Belajar hendaknya melakukan aktivitas mental pada kadar yang tinggi. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat (Arief Sadiman dalam Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran : 117).

  1. Perubahan perilaku

          Hasil belajar akan nampak pada perubahan perilaku individu yang belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilannya bertambah, selain itu, penguasaan nilai – nilai dan sikapnya bertambah pula.

          Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku karena faktor kematangan, karena lupa, karena minum minuman keras bukan termasuk sebagai hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil pengalaman (berinteraksi dengan lingkungan), dan tidak terjadi proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan dalam beraktivitas.

Perubahan perilaku sebagai hasil dari belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

  • Domain kognitif meliputi perilaku daya cipta, yaitu berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia, antara lain kemampuan mengingat (knowledge), memahami (comprehension), menerapkan (application), menganalisis (analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi (evaluation).
  • Domain afektif berkaitan dengan perilaku daya rasa atau emosional manusia, yaitu kemampuan menguasai nilai – nilai yang dapat membentuk sikap seseorang.
  • Domain psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan – keterampilan motorik (gerak fisik).

          Pada pembelajaran, perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang ingin dicapai ini dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang ingin dicapai dengan segala indikatornya. Contoh rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran: “siswa dapat mengubah pecahan biasa ke dalam bentuk pecahan desimal dan mengurutkannya” kata dapat mengubah merupakan perilaku hasil belajar yang akan dapat dicapai dalam pembelajaran.

  1. Pengalaman

          Belajar adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah lingkungan disekitar individu baik dalam bentu alam sekitar (natural) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia (cultural).

          Macam – macam lingkungan fisik yang bersifat natural antara lain pantai, hutan, sungai, udara, air dan sebagainya. Bersifat cultural adalah buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah dan sebagainya. Adapun lingkungan sosial siswa diantaranya guru, orang tua, pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah dan sebagainya. Lingkunan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa untuk belajar. Guru yang mengajar tanpa menggunakan alat peraga tentu kurang merangsang / menantang siswa untuk belajar. Semua lingkungan yang diperlukan untuk belajar siswa ini yang didesain secara integral akan menjadi bahan belajar dan pembelajaran yang efektif.

           Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung. Siswa yang melakukan eksperimen adalah contoh belajar dengan pengalaman langsung. Sedangkan siswa yang belajar dengan mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku adalah contoh belajar melalui pengalaman tidak langsung.

Sumber Rujukan :

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori – Teori Belajar. Jakarta : Erlangga

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s