Feeds:
Posts
Comments

   Sehat merupakan hal yang penting bagi manusia. Memiliki tubuh yang tidak sehat akan sangat mengganggu aktivitas yang dilakukan.  Oleh karena itu penting bagi kita sebagai manusia untuk menjaga kesehatan, baik kesehatan diri maupun lingkungan sekitar karena dibalik tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.

   Banyak permasalahan yang muncul di masyarakat berkaitan dengan kesehatan, misalnya saja kasus penyebarluasan penyakit menular Human Imunodeficiency Virus (HIV) demam berdarah dan lain sebagainya. Hal tersebut menimbulkan banyak kerugian bahkan merenggut banyak korban jiwa. Berdasarkan data statistik kesehatan di Indonesia pada 10 Desember 2013 menyatakan bahwa kematian orang dewasa umumnya disebabkan karena penyakit menular, penyakit degeneratif, kecelakaan atau gaz3iya hidup yang beresiko terhadap kematian. Sedangkan kematian bayi dan balita umumnya disebabkan oleh penyakit sistim pernapasan bagian atas (ISPA) dan diare, yang merupakan penyakit karena infeksi kuman. Faktor gizi buruk juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap penyakit menular, sehingga mudah terinfeksi dan menyebabkan tingginya kematian bayi dan balita di sesuatu daerah (www.datastatistik-indonesia.com).

   Permasalahan tersebut banyak diakibatkan karena tidak adanya  atau tidak dimilikinya pengetahuan dan pemahaman mengenai kesehatan oleh masyarakat. Maka dari itu, penting sekali pemahaman mengenai kesehatan bagi masyarakat karena salah satu cara untuk dapat menjaga kesehatan adalah diawali dengan kesadaran untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai bagaimana menjaga kesehatan itu sendiri.

   Pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan perlu dilakukan sejak masih kecil agar seseorang memiliki kemampuan untuk dapat menjaga kesehatan baik diri pribadinya maupun lingkungannya seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Jika seseorang telah diberi pemahaman mengenai kesehatan sejak dini, maka peluang untuk dapat melakukan aktivitas positif bagi kesehatan dapat lebih banyak dilakukan.

   Saat ini di Indonesia telah banyak dilakukan kegiatan edukasi kesehatan, antara lain yang sekarang banyak dilakukan misalnya penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut, penyuluhan tentang kesehatan ibu dan anak, penyuluhan tentang pemberantasan penyakit menular dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan edukasi kesehatan tersebut ada yang berjalan dengan baik tapi ada pula yang masih belum berjalan dengan baik, padahal jika dilihat dari segi manfaat dan tingkat kepentingannya, kegiatan edukasi kesehatan itu sangat bermanfaat dan penting sekali. Banyak faktor yang membuat terhambatnya pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan, salah satu yang mendasari terhambatnya keberhasilan kegiatan tersebut adalah karena kurangnya pemerataan edukasi kesehatan yang dijalankan, hal itu dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain misalnya karena faktor demografi, tenaga sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana dan lain – lain.

   Bertolak dari hal tersebut, salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan pemerataan edukasi kesehatan pada masyarakat adalah dengan melakukan kegiatan edukasi kesehatan melalui program parenting school. Program parenting school  atau biasa dikenal dengan program pendidikan keorangtuaan merupakan program yang sudah marak digalakkan oleh berbagai lembaga baik formal maupun nonformal, baik di pedesaan maupun diperkotaan. Umumnya, program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat dan mendidik anak usia dini agar mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara tepat dan benar, oleh karena itu program ini dapat menjadi sarana yang baik untuk edukasi kesehatan bagi masyarakat.

   Mengapa edukasi kesehatan perlu dilakukan melalui program parenting school atau program pendidikan keorangtuaan? Jawabannya adalah karena pada dasarnya pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki seseorang awalnya didapat melalui interaksi dengan orang-orang terdekatnya dalam hal ini adalah keluarga terutama orangtua. Pengetahuan dan pemahaman tersebut mencakup keseluruhan aspek kehidupan termasuk juga aspek kesehatan sehingga dalam hal ini keluarga khususnya orangtua akan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan pemahaman yang mengenai kesehatan yang dimiliki oleh anak-anaknya. Melalui orangtua dan keluarga, anak akan belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan dalam kehidupan sehari – hari mulai dari hal – hal yang sepele atau sederhana sampai pada hal yang rumit. Contohnya saja anak akan mengetahui bagaimana caranya mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya dan lain – lain melalui apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orangtuanya.

   Perilaku anak tercermin dari perilaku orangtuanya. Begitupun dalam hal edukasi kesehatan. Jika orang tua tidak memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai kesehatan yang baik kepada anak-anaknya, maka dapat diprediksikan bahwa anak-anaknya tersebut tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik pula tentang kesehatan. Hal ini berkorelasi juga dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh orang tua yaitu jika orang tua memiliki pengetahuan dan pemahaman yang kurang tentang kesehatan maka kemungkinan besar anak-anaknya pun memiliki pengetahuan yang sedikit tentang kesehatan karena bagaimanapun keluarga terutama orang tua merupakan landasan atau awal pendidikan bagi anak-anaknya sehingga apapun yang dilakukan oleh orangtua pada anaknya akan berdampak terhadap kehidupan anak tersebut.

   Pelaksanaan edukasi kesehatan melalui program parenting school ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak agar dapat berjalan dengan baik. Dukungan tersebut antara lain didapat melalui jalinan kemitraan dengan berbagai pihak yang berkaitan, baik pihak pemerintah maupun swasta, misalnya seperti Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Posyandu, Poskesdes serta perusahaan-perusahaan yang mendukung pelaksanaan berbagai program kesehatan. Melalui jalinan kemitraan dengan lembaga-lembaga tersebut, kegiatan edukasi kesehatan melalui program ini diperkirakan akan dapat berjalan secara optimal karena terorganisasi dengan baik. Selain itu, keunggulan program ini karena bekerja sama dengan pihak pemerintah, maka memiliki dasar hukum yang kuat sehingga tidak akan mudah diganggu gugat oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Dari segi pendanaan, tentunya tidak akan menemukan kesulitan yang berarti, mengingat program ini akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah serta pihak sponsor.

   Hal lain yang penting dilaksanakan dalam pelaksanaan edukasi kesehatan adalah sosialisasi dan publikasi. Dengan sosialisasi dan publikasi yang baik, akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikuti kegiatan edukasi kesehatan. Langkah sosialisasi dan publikasi yang dilakukan adalah melalui media, baik media cetak maupun media digital. Misalnya melalui selebaran famplet, poster, radio, televisi bahkan situs jejaring sosial, selain itu juga sosialisasi dapat dilakukan melalui “mouth to mouth”  atau dari mulut ke mulut dengan asumsi bahwa masyarakat cenderung memiliki komunikasi interpersonal yang baik. Upaya sosialisasi dan publikasi lainnya adalah melalui kegiatan bakti sosial, misalnya dengan pemeriksaan dan pengobatan gratis dan lain-lain (yang sifatnya sosial atau non komersil) karena biasanya masyarakat akan lebih mudah dirangkul dengan kegiatan yang sekiranya dapat menguntungkan bagi mereka.

   Akan tetapi semua penjelasan yang berkaitan dengan pemerataan penerapan edukasi kesehatan tersebut akan menjadi percuma dan sia-sia jika hanya sebatas wacana saja tanpa diimplementasikan, maka dari itu mari kita sadari pentingnya edukasi kesehatan dan terapkan hal tersebut dalam hidup kita sehari-hari, minimal dimulai dari dan untuk diri kita sendiri. Salam sehat !

Lomba Blog FPKR

     Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah kepada seluruh umat manusia untuk menata semua aspek kehidupannya dalam setiap ruang dan waktu, baik pada aspek individu, sosial, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Dalam aspek ekonomi, umat Islam mengenalnya dengan istilah ekonomi syariah. Ekonomi syariah merupakan suatu sistem ekonomi yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah (secara konsep dan prinsip) yang tetap dan tidak berubah kapanpun dan dimanapun serta bersumber pula dari Ijtihad yang dimaksudkan untuk mendapatkan ketentuan-ketentuan hukum muamalah baru yang timbul seiring dengan kemajuan zaman dan kebutuhan masyarakat.

     Penerapan sistem ekonomi syariah di Indonesia pada awalnya berjalan ketika hadirnya Paket Kebijakan Menteri Keuangan pada Desember 1983 atau yang dikenal dengan Pakdes 1983. Pakdes ini memberikan peluang kepada lembaga perbankan untuk memberikan kredit dengan bunga 0% (zero interest). Sampai sekitar tahun 1998 peraturan (undang – undang) tentang sistem ekonomi syariah telah mengalami beberapa perubahan, yang pada umumnya mengatur tentang perbankan di Indonesia.

     Aktivitas ekonomi syariah di Indonesia saat ini semakin berkembang pesat, baik dalam bentuk lembaga keuangan bank maupun non-bank. Praktik ekonomi syariah di Indonesia tersebut berdasarkan kepada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), kompilasi hukum ekonomi syariah, peraturan Bank Indonesia, peraturan ketua Bapepam LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan), edaran Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan.

     Dalam implementasinya, ekonomi syariah memiliki komitmen yang kuat pada pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan, pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba dan pelarangan spekluasi mata uang sehingga menciptakan stabilitas perekonomian. Selain itu juga, ekonomi syariah mengajarkan konsep yang unggul dalam menghadapi gejolak moneter dibandingkan  dengan sistem konvensional. Fakta ini telah diakui oleh banyak pakar ekonomi global seperti Rodney Shakespeare (United Kingdom) dan Volkes Nienhaus (Jerman).

     Ditengah banyaknya permasalahan ekonomi yang melanda bangsa Indonesia khususnya permasalahan keuangan dalam kegiatan perekonomian membuat masyarakat melakukan banyak hal untuk mencari penyelesaian permasalahan tersebut, salah satunya yaitu melakukan pinjaman uang dengan jaminan atau biasa disebut gadai. Menurut Udang-undang (UU) Perdata pasal 1150 gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berhutang atau oleh orang lain atas dirinya, dan yang memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang yang berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya – biaya mana harus didahulukan.  Akan tetapi, cara ini justru terkadang semakin memperburuk permasalahan yang ada karena dalam melakukan pinjaman uang dengan jaminan biasanya disertai dengan bunga yang harus dibayar oleh peminjam. Dalam kasus semacam ini, sistem ekonomi syariah merupakan pilihan yang menguntungkan untuk diterapkan karena memberikan manfaat yang besar, antara lain melalui pegadaian syariah.

     Fiqih Islam mengenal perjanjian gadai yang disebut rahn, yaitu perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan hutang. Gadai (rahn) dapat diartikan pula sebagai perjanjian suatu barang sebagai tanggungan utang, atau menjadikan suatu benda bernilai menurut pandangan syara’ sebagai tanggungan pinjaman (marhun bih), sehingga dengan adanya tanggungan utang ini seluruh atau sebagian utang dapat diterima atau untuk lebih singkatknya gadai (rahn) adalah penguasaan barang milik peminjam oleh pemberi pinjaman sebagai jaminan. Orang yang menyerahkan barang gadai disebut rahin, orang yang menerima gadai disebut murtahin, dan barang yang digadaikan disebut marhun. Selain itu, terdapat pula sighat akad yaitu ucapan berupa ijab dan qabul.

     Dalam pegadaian syariah ini terdapat rukun dan syarat sah yang harus dipenuhi (yang telah ditetapkan oleh para ulama fiqih) ketika melaksanakannya. Selain itu juga, diatur tentang hak dan kewajiban penerima gadai dan pemberi gadai sehingga kemungkinan terjadinya penyimpangan atau perilaku saling mengeksploitasi antara pemberi gadai dan penerima gadai sangatlah kecil. Dengan melakukan gadai berbasis syariah ini kita tidak hanya mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan aktivitas perekonomian antar manusia saja, tetapi juga merupakan suatu bentuk ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa karena konsep pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern, yaitu azas rasionalitas, efisiensi, dan efektivitas yang diselaraskan dengan nilai-nilai Islam. Fungsi operasi pegadaian syariah dijalankan kantor-kantor cabang pegadaian syariah atau Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai satu unit organisasi dibawah binaan Divisi Usaha Lain Perum Pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional.

     Pegadaian syariah bersifat mandiri dan tidak terpengaruh oleh gejolak moneter baik dalam negeri maupun internasional. Adanya pegadaian syariah yang telah disesuaikan (dengan situasi dan kondisi perekonomian saat ini) agar tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku akan memperkaya khasanah lembaga keuangan di Indonesia. Dengan mengenali kekuatan dari pegadaian syariah maka yang menjadi kewajiban kita semua adalah terus mengembangkan kekuatan yang dimiliki perusahaan gadai dengan sistem ini mengingat bahwa pegadaian syariah sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam, maka sangat memungkinkan perusahaan gadai dengan sistem ini akan mempunyai segmentasi dan pangsa pasar yang baik sekali di Indonesia, hal ini salah satunya dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Sumber :

Alma, Buchari dan Donni Juni Priansa. 2009. Manajemen Bisnis Syariah. Bandung : Alfabeta

Izzan, Ahmad dan Syahri Tanjung. 2006. Referensi Ekonomi Syariah : Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Berdimensi Ekonomi. Bandung : Remaja Rosdakarya

Mardani. 2011. Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia. Bandung : Refika Aditama

Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen – komponen tertentu. komponen – komponen apa saja yang membentuk sistem kurikulum itu? Bagaimana keterkaitan antar komponen itu? Anda dapat memperhatikan bagan dibawah ini.

Gambar

Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen, yaitu : komponen tujuan, isi kurikulum, komponen metode atau strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem, setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum secara keseluruhan juga akan tergganggu.

  1. Komponen Tujuan

Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat yang di cita – citakan, misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran.

  1. Komponen Isi/ Materi Pelajaran

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap materi pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

  1. Komponen Metode/ Strategi

Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimana bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka maka tujuan itu tidak mungkin dapat tercapai. Strategi meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat diatas, T. Rajakoni mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Dari kedua pengertian diatas, ada dua hal yang patut kita cermati. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan atau strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja, belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah – langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.

Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, dinamakan metode. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa jadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh karena itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in achieving something.

Istilah lain juga yang memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda dengan strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Roy Killen (1998) misalnya, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approach) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approach). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta strategi pembelajaran induktif. Dengan demikian, istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu, strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tertentu.

  1. Komponen Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian – bagian mana yang harus disempurnakan. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif. Evaluasi sebagai alat untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu tes dan nontes.

Referensi :

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

FUNGSI KURIKULUM

Disamping memiliki peranan, kurikulum juga mengemban berbagai fungsi tertentu. Alexander Inglish, dalam bukunya Principles of Secondary Education (1918, dalam Oemar Hamalik, 2009), mengatakan bahwa kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik.

  1. Fungsi penyesuaian (The Adjustive of Adaptive Function)

Individu hidup dalam lingkungan. Setiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Karena lingkungan sendiri senantiasa berubah dan bersifat dinamis, maka masing – masing individu pun harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri secara dinamis pula. Dibalik itu, lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan. Disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan, sehingga individu bersifat well – adjusted.

  1. Fungsi Integrasi (The Integrating Function)

Kurikulum berfungsi mendidik pribadi – pribadi yang terintegrasi. Oleh karena individu sendiri merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.

  1. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating Function)

Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan di antara setiap orang dalam masyarakat. Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, adanya diferensiasi tidak berarti mengabaikan solidaritas sosial dan integrasi, karena diferensiasi juga dapat menghindarkan terjadinya stagnasi sosial.

  1. Fungsi Persiapan (The Propaedeutic Function)

Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, misal melanjutkan studi ke sekolah yang lebih tinggi atau persiapan belajar didalam masyarakat. Persiapan kemampuan belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan, mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua yang diperlukan siswa atau apa pun yang menarik perhatian mereka.

  1. Fungsi Pemilihan (The Selective Function)

Perbedaan (diferensiasi) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokratis. Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel.

  1. Fungsi Diagnostik (The Diagnostic Function)

Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan siswa untuk mampu memahami dan menerima dirinya, sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan jika siswa menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui proses eksplorasi. Selanjutnya siswa sendiri yang memperbaiki kelamahan tersebut dan mengembangkan sendiri kekuatan yang ada. Fungsi ini merupakan fungsi diagnostik kurikulum dan akan membimbing siswa untuk dapat berkembang secara optimal.

Berbagai fungsi kurikulum tadi dilaksanakan oleh kurikulum secara keseluruhan. Fungsi-fungsi tersebut memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa, sejalan dengan arah filsafat pendidikan dan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh institusi pendidikan yang bersangkutan.

Sumber Referensi :

Hamalik, Oemar. 2009. Dasar – Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya

PERANAN KURIKULUM

        Sebagai salah satu bagian dalam sistem pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, kurikulum tentunya memiliki peranan yang sangat penting bagi kegiatan pendidikan yang sedang dilaksanakan. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan dengan sekolah sebagai institusi sosial dalam menjalankan operasinya maka dapat ditentukan paling tidak kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peran kritis atau peran evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan ini sangat penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang. Dalam bahasan kali ini akan dijelaskan secara singkat peranan kurikulum tersebut.

  • Peran Konservatif

     Salah satu tugas dan peranan sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan adalah mewariskan nilai – nilai dan budaya masyarakat kepada generasi muda yakni siswa. Siswa perlu memahami dan menyadari norma – norma dan pandangan hidup masyarakatnya, sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka dapat menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengan norma – norma tersebut, dengan demikian, sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat memengaruhi dan membina tingkah laku siswa sesuai dengan berbagai nilai sosial yang ada dalam masyarakat, sejalan dengan peranan pendiidkan sebagai suatu proses sosial. Salah Peran konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai-nilai budaya sebagai warisan masa lalu serta mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial budaya tersebut pada generasi muda. Dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing dan menggerogoti budaya lokal, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti yang sangat penting. Melalui peran konservatifnya, kurikulum berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai – nilai luhur masyarakat, sehingga keajekan dan identitas masyarakat akan tetap terpelihara dengan baik.

  •  Peran Kreatif

       Sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam mewariskan nilai – nilai masa lampau, tetapi juga bertanggung jawab dalam mewariskan hal – hal baru sesuai dengan tuntutan zaman. Sebab, pada kenyataannya masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi dinamis yang selalu mengalami perubahan. Dalam rangka inilah kurikulum mengalami peran kreatif. Kurikulum berperan dalam melakukan berbagai kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam artian menciptakan dan menyusun suatu hal yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimasa sekarang dan masa mendatang.

      Kurikulum harus mampu menjawab setiap tantangan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang cepat berubah. Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung hal – hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang senantiasa bergerak maju secara dinamis. Mengapa kurikulum harus berperan kreatif? Sebab, manakala kurikulum tidak mengandung unsur – unsur baru maka pendidikan selamanya akan tertinggal, yang berarti apa yang diberikan sekolah pada akhirnya akan kurang bermakna, karena tidak relevan lagi dengan kebutuhan dan tuntutan sosial masyarakat. Untuk potensi yang ada padanya, maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan keterampilan yang baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

  • Peran Kritis dan Evaluatif

       Kebudayaan senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Apakah setiap nilai dan budaya lama harus diwariskan kepada setiap anak didik? Apakah setiap nilai dan budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman juga harus dimiliki oleh setiap anak didik? Tentu saja tidak. Tidak setiap nilai dan budaya lama harus tetap dipertahankan, sebab terkadang nilai dan budaya lama itu sudah tidak sesuai dengan tuntutan dan perkembangan budaya masyarakat; demikian pula adakalanya nilai dan budaya baru itu tidak sesuai dengan nilai – nilai lama yang masih relevan dengan keadaaan dan tuntutan zaman. Dengan demikian, kurikulum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu dipertahankan, dan nilai atau budaya baru mana yang harus dimiliki anak didik. Dalam rangka inilah peran kritis dan evaluatif kurikulum diperlukan. Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik, kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam kontrol sosial dan memberi penekanan pada unsur berpikir kritis. Nilai – nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaaan dimasa mendatang dihilangkan, serta diadakan modifikasi dan perbaikan. Dengan demikian, kurikulum harus merupakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.

     Dalam proses pelaksanaannya, ketiga peranan kurikulum tersebut harus berjalan secara seimbang, atau dengan kata lain terdapat keharmonisan diantara ketiganya. Kurikulum yang terlalu menonjolkan peran konservatifnya cenderung akan membuat pendidikan ketinggalan oleh kemajuan zaman, sebaliknya kurikulum yang terlalu menonjolkan peran kreatifnya dapat membuat hilangnya nilai – nilai budaya masyarakat. Akan tetapi jika peran kurikulum tersebut berjalan secara seimbang atau tidak terlalu condong pada salah satu perannya, maka kurikulum akan dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa siswa menuju kebudayaan masa depan.

Sumber Referensi :

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2012. Pengembangaan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya

Sanjaya, wina. 2010. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : Kencana

     Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum didalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan – landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil – hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.

     Landasan kurikulum pada hakikatnya merupakan faktor – faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencanakan suatu kurikulum lembaga pendidikan, baik lembaga berupa sekolah maupun lembaga non sekolah.

     Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, serta perkembangan ilmu dan teknologi.

Pada bagian ini akan dibahas secara singkat landasan – landasan tersebut.

  • Landasan Filosofis

Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antar pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yang menjadi tujuan pendiidkan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut merupakan pertanyaan – pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial, yaitu jawaban – jawaban filosofis.

Istilah filsafat berasal dari dua kata yunani, yaitu philein yang berarti cinta dan sophia, yang berarti kebijaksanaan. Jadi, secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Falsafah atau pandangan hidup adalah sistem nilai dan berbagai norma yang disetujui, baik oleh individu maupun masyarakat suatu bangsa. Dari falsafah pendidikan, diperoleh gambaran ideal manusia yang dicita – citakan oleh masyarakat dalam bangsa yang bersangkutan.

Landasan filosofis merupakan asumsi – asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak mengembangkan kurikulum. Asumsi – asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada perumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.

  • Landasan Psikologis

Landasan psikologis merupakan aumsi – asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. psikologi perkembangan mempelajari proses dan karakteristik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar.

Psikologi belajar mengetengahkan beberapa teori belajar yang masing – masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan hendaknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa. Ada tiga jenis teori belajar yang mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, bahavioristik dan humanistik.

  • Landasan Sosial Budaya

Landasan sosial budaya merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antropologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakteristik sosial budaya dimana peserta didik hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan.

Kebudayaan bukan hanya berupa material belaka, melainkan juga berupa sikap mental, cara berpikir dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencakup berbagai dimensi, diantaranya keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, dan rekreasi. Semua dimensi tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum

  • Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan kurikulum merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Pengembangan kurikulum membutuhkan sumbangan dari berbagai kajian ilmiah dan teknologi baik yang bersifat hardware maupun software sehingga pendidikan yang dilaksanakan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sumber Referensi :

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.

Hamalik, Oemar. 2008. Dasar – Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2012. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya

Kurikulum

Istilah kurikulum (curriculum) memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tafsiran ataupun pengertian tentang kurikulum.

    Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni curriculae, yaitu curir (pelari) dan curere (tempat berpacu,) artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.

     Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah merupakan satu bukti bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu pelajaran yang ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.

       Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan pengertian kurikulum ditinjau dari tiga dimensi, yaitu sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai rencana. Kurikulum sebagai ilmu mengkaji konsep, asumsi, teori – teori dan prinsip- prinsip dasar tentang kurikulum. Kurikulum sebagai sistem menjelaskan kedudukan kurikulum dalam hubungannya dengan sistem –sistem lain, komponen – komponen kurikulum, kurikulum dalam berbagai jalur, jenjang, jenis pendidikan, manajemen kurikulum dan sebagainya. Kurikulum sebagai rencana diungkap beragam rencana dan rancangan atau desain kurikulum. Rencana bersifat menyeluruh untuk semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan atau khusus untuk jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. demikian pula dengan rancangan atau desain, terdapat desain berdasarkan konsep, tujuan, isi, proses, masalah, dan kebutuhan siswa

beberapa tafsiran lainnya mengenai kurikulum antara lain sebagai berikut:

Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran

Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya, berkat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut aturan tertentu; dan logis; artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan, maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari oleh siswa di sekolah.

Kurikulum sebagai rencana pembelajaran

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. itu sebabnya, suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman sekolah dan lain-lain; yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Semua kesempatan dan kegiatan yang akan dan perlu dilakukan oleh siswa direncanakan dalam suatu kurikulum. Hal ini berarti, semua hal dan semua orang yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk kedalam kurikulum.

Kurikulum sebagai pengalaman belajar

Perumusan/pengertian kurikulum lainnya yang agak berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. kegiatan-kegiatan kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan diluar kelas. Tak ada pemisahan yang tegas antara intra dan ekstra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar/pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

kurikulum

     Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan dan persekolahan di Indonesia adalah bahwa kurikulum merupakan suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam undang – undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu”. dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi, pengertian kurikulum yang digunakan mengacu pada pengertian seperti yang tertera dalam UU tersebut dengan penekanan pada rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan nasional dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah dan sekolah/madrasah.

Referensi:

Hamalik, Oemar. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.